Penanaman Nilai-nilai Karakter Berbasis Kearifan Lokal Budaya Sunda untuk Mengembangkan Life Skill Siswa Madrasah

Penanaman Nilai-nilai Karakter Berbasis Kearifan Lokal Budaya Sunda untuk Mengembangkan Life Skill Siswa Madrasah

Version
Download 63
Total Views 851
Stock
File Size 1.03 MB
File Type pdf
Create Date 05-09-16
Last Updated 22-11-16
Download

kaper-laporan-penelitian-model-penanaman-nilai2-berbasis-kearifan-lokalLaporan hasil penelitian kompetitif kelompok yang didanai oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Tahun 2015, berjudul Penanaman Nilai-nilai Karakter Berbasis Kearifan Lokal Budaya Sunda untuk Mengembangkan Life Skill Siswa Madrasah (Penelitian pada Madrasah Aliyah di Kota Bandung), diketui oleh Dr. Aan Hasanah, M.Ed. (UIN Sunan Gunung Djati Bandung) sedangkan anggota-anggota: Neng Gustini, M.Pd. (UIN Sunan Gunung Djati Bandung) dan Dede Rohaniawati, M.Pd. (UIN Sunan Gunung Djati Bandung).

Hasil penelitian menujukkan bahwa peran pemerintah kota Bandung dalam mengembangkan nilai-nilai karakter budaya Sunda sangat besar dengan mengeluarkan kebijakan dalam bentuk Perda No. 9 tahun 2012 mengenai Penggunaan dan Pelestarian Bahasa, Sastra, dan Aksara Sunda. Jenis nilai-nilai karakter berbasis kearifan lokal  budaya Sunda  ada dalam ‘petatah dan pepeling’, bahasa dan pakaian adat Sunda. Program pendidikan karakter yang diterapkan di MA adalah penanaman nilai-nilai esensial keislaman dan kesundaan dengan pembelajaran dan pendampingan. Metode yang digunakan berupa pengajaran, keteladanan, praksis prioritas, refleksi, model, dan PAKEM. Model pembelajaran terintegrasi pada berbagai mata pelajaran. Media yang digunakan pada dasarnya memanfaatkan media yang ada di lingkungan sekolah. Evaluasi yang digunakan secara komprehensif, meliputi; sikap, pengetahuan, keterampilan. Bentuk-bentuk kecakapan Hidup (life skills) yang dimiliki siswa secara umum mencakup kecakapan generik dan spesifik. Faktor pendukung adalah adanya dukungan penuh dari Pemkot Bandung kepada madrasah, ketersediaan tenaga pendidik profesional, fasilitas, kurikulum, program, manajemen sekolah, sistem, metode, dan media yang memadai. Disamping itu terdapat faktor  penghambatnya, diantaranya; guru yang kurang memahami budaya Sunda, peserta didik yang beragam latar belakang budaya, kerjasama orang tua siswa dan sekolah belum efektif, serta keterbatasan buku-buku referensi tentang budaya sunda