News

WEBINAR PENDIDIKAN BANGKIT INDONESIA BANGKIT

World Health Organization (WHO) pada Februari 2020 mengumumkan secara resmi bahwa Covid-19 sebagai pandemi, dan kejadian tersebut telah mengubah hidup warga dunia yang terdampak dimana pun negaranya berada. Pemerintah dan masyarakat di masing-masing negara berusaha menekan penyebaran Covid-19 dengan berbagai cara seperti salah satunya adalah melakukan kegiatan rutinitas dari rumah. Di Indonesia sendiri, kegiatan rutinitas dari rumah ini sudah dua bulan lebih dilaksanakan semenjak diumumkannya darurat nasional sejak pertengahan Maret lalu. Pada bulan Mei 2020 ini, Hari Kebangkitan Nasional dirayakan oleh warga Indonesia dengan melaksanakan berbagai kegiatan dari rumah seperti pelaksanaan Webinar (Web-Based Seminar).

Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, UIN Sunan Gunung Djati Bandung melaksanakan kegiatan Webinar pada tanggal 20 Mei 2020 pada pukul 10.00-12.00 dengan menghadirkan sejumlah narasumber yang memiliki pengalaman tinggal di berbagai negara yaitu dari Indonesia sendiri, Inggris, Australia dan Irlandia. Webinar ini dihadiri langsung oleh Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Mahmud, M.Si dan dimoderatori oleh Dr. Dindin Jamaluddin, M.Ag (Wakil Dekan I, FTK) dengan peserta yang terdiri atas alumni, masyarakat ilmiah dan masyarakat umum yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia.

Menurut Prof. Dr. Hj. Aan Hasanah, M.Ed, Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) yang sekaligus mebuka acara, Webinar bertema Pendidikan Bangkit Indonesia Bangkit secara virtual ini digelar dalam rangka memperingati hari Kebangkitan Nasional pada Tahun 2020 di tengah pandemi ini. Dengan mengambil narasumber, diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan membagi pengalaman mereka menempuh pendidikan di luar negeri di saat pandemi global sedang melanda sejumlah negara.

Paparan selanjutnya yang disampaikan oleh Rektor (Prof. Dr. H. Mahmud, M.Si) dalam salah satu penyampaiannya mengungkapkan bahwa “Kita harus menguatkan pendidikan yang sudah dirumuskan oleh para leluhur kita” Selain itu dinyatakan bahwa “Jika kita ingin membuat Indonesia unggul, maka optimalkan pendidikan kita yang merujuk pada nilai-nilai pancasila”.

Sebagai narasumber, Dekan FTK menyampaikan bahwa pendidikan di Indonesia ini memiliki beberapa kekuatan seperti 1) Spirituali/Teologis, bahwa pendidikan bukan semata hanya kewajiban sosial, namum kewajiban agama, 2) Modal sosial, yaitu Network, Nilai dan Kepercayaan, dan 3) resiliansi.

Pemateri selanjutnya adalah sharing pendidikan pada berbagai negara yang disampaikan oleh Linda Nurjati dari UK, Fakry Hamdani dari Australia, dan Gugum Gumelar dari Dublin, Irlandia. Dalam paparananya Linda menyampaikan bagaimana proses pembelajaran yang dilaksanakan di UK pada beberapa tingkatan pendidikan seperti tingkat SMP yang menggunakan salah satu aplikasi yang bernama OAK National Academy pada masa pandemi Covid-19 ini.

Fakry Hamdani sebagai pemateri selanjutnya menyampaikan kondisi saat ini dan kondisi selanjutnya yang berkaitan dengan pendidikan pada saat pandemik seperti ini. “Beberapa penelitian/pendidikan dapat dilakukan secara virtual, namun tidak semua dapat dilakukan secara virtual communiation, dan ini menjadi tantangan bagi pendidik/peneliti”. Dan apa selanjutnya yang harus dilakukan sekolah setelah pandemik ini, maka terdapat pernyataan kunci yang disampaikan oleh Fakry yaitu “Reshaping education and tool for teacher”.

Pemateri terakhir, Gugum Gumelar menyampaikan bahwa pendidikan saat ini berada pada era revolusi 4.0 yang berbasis teknologi dan kita masuk dalam masyarakat informasi yang menuju masyarakat pintar (Masyarakat 5.0). Selain itu, Gugum memberikan solusi bagi bangsa diantaranya adalah mindset shifting, revitalisasi pola fikir tentang cara baru belajar, teknologi pembelajaran yang variatif, keharusan negara menyiapkan regulasi untuk pengembangan sumber belajar digital, kewajiban negara mencetak tenaga pendidik yang adaptif akan perubahan dunia dan menguasai teknologi pembelajaran, prinsip meritokrasi (meritocracy system on the basis of talent, effort, and achievement, rather than  social class), dan kewajiban negara memperhatikan kesejahteraan para guru dan dosen.

Pada paparan akhir sebagai Closing Statement, Prof. Aan Hasanah menyampaikan bahwa kesenjangan dalam pendidikan merupakan PR kita bersama dan butuh ikhtiar maksimal untuk mempersempit kesenjangan. Kualitas pendidikan di manapun itu (wilayah republik Indonesia) akan sama kualitasnya dan harus sama. Kolaborasi dan bekerja bersama dapat dilakukan untuk memastikan bahwa kualitas pendidikan Indonesia bisa bangkit dalam kondisi apapun dan di daerah manapun dengan dua aspek yaitu otonomi dan heteronomi. Jika otonomi bangkit maka aspek heteronomi juga akan bangkit.

[DJ, NK, EP, FE]

Leave a comment

betebet
pokerklasmariobettipobet365klasbahispulibetyatırımsız deneme bonusu
vdcasino betpas  bahis siteleri matbet discountgirisi.xyz çevrimsiz deneme bonus veren siteler pokerklas elexbet imajbet jasminbet mariobet pulibet süperbetin betsat betpark
radyo virgin
paper io
izmir escort
tipobet mobilbahis betsmove princessbet süpertotobet
süperbahis tipobet bonus veren siteler en iyi casino siteleri
nicobetmilanobetdinamobetjestbahis
betvolerestbetholiganbet